Pilih warna background blog ini

Beautiful Park

Indahnya warna-warni alam....

Ini dimana ya...

Keep our forest naturally, so we can live in harmony

Quiet place to take a rest...

Mancing boleh ga ya disini...

Dewy morning

Feel fresh....

Menikmati keindahan alam

Menambah rasa syukur dan memuji pencipta Nya...

Sabtu, 15 Desember 2012

Think Positive: Menyambut Kurikulum 2013



Wacana yang berkembang di masyarakat terkait Kurikulum 2013 sangat marak. Ada berbagai persepsi dan kritik yang berkembang dan perlu dihargai sebagai bagian dari proses pematangan kurikulum yang sedang disusun.
Terlepas dari cemooh ”ganti menteri ganti kurikulum”, kurikulum memang harus senantiasa berubah seiring perubahan dalam berbagai bidang kehidupan. Kritik dari kalangan industri justru diarahkan pada keengganan dunia pendidikan untuk merespons perubahan dalam masyarakat dan mentransformasi diri.

Sabtu, 15 September 2012

Menjadi Guru Profesional

Istilah profesionalisme berasal dari kata profesion, yang artinya pekerjaan. Dalam buku yang ditulis oleh Kunandar yang berjudul guru Professional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan disebutkan juga bahwa profesionalisme berasal dari kata profesi yang artinya suatu bidang pekerjaan yang ingin atau akan ditekuni oleh seseorang. Profesi juga diartikan sebagai suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian tertentu. menurut Martinis Yamin profesi mempunyai pengertian yang menekuni pekerjaan berdasarkan keahlian, kemampuan, teknik dan prosedur berdasarkan intelektualitas.
Berdasarkan berbagai pengertian diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa profesi adalah suatu pekerjaan atau keahlian yang mensyaratkan kompetensi intelektualitas, sikap dan ketrampilan tertentu yang diperoleh melalui proses pendidikan secara akademis.

Guru sebagai profesi berarti guru sebagai pekerjaan yang mensyaratkan kompetensi (keahlian dan kewenangan) dalam pendidikan dan pembelajaran agar dapat melaksanakan pekerjaan tersebut secara efektif dan efisien. Adapun mengenai pengertian profesionalisme itu sendiri adalah suatu pandangan bahwa suatu keahlian dalam tertentu diperlukan dalam pekerjaan tertentu yang mana keahlian itu hanya diperoleh melalui pendidikan khusus atau latihan khusus.
Jadi profesionalisme guru merupakan kondisi, arah, nilai, tujuan dan kualitas suatu keahlian dan kewenangan dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang berkaitan dengan pekerjan seseorang yang menjadi mata pencaharian. Sementara itu guru yang professional merupakan guru yang memiliki kompetensi yang dipersyaratkan untuk melakukan tugas pendidikan dan pengajaran. atau dengan kata lain maka dapat disimpulkan bahwa guru professional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal
(Repost: andijosua.blogspot.com)


.

Sepuluh ciri guru profesional

1. Selalu punya energi untuk siswanya 
 Seorang guru yang baik menaruh perhatian pada siswa di setiap percakapan atau diskusi dengan mereka. Guru yang baik juga punya kemampuam mendengar dengan seksama.

 2. Punya tujuan jelas untuk Pelajaran 
Seorang guru yang baik menetapkan tujuan yang jelas untuk setiap pelajaran dan bekerja untuk memenuhi tujuan tertentu dalam setiap kelas.

Inilah 10 Perilaku Yang Harus Dihindari Dalam Dunia Pendidikan

Kewajiban sebagai orang tua adalah mendidik, mengasuh anak dengan baik. Dalam mengasuh anak terkada
ng orang tua “lepas kendali” dalam menghadapi perilaku ”kreatif” anak. Berikut ini adalah 10 bentuk perilaku buruk yang harus dihindari dalam mendidik anak. Sumber diambil dari artikel satumuslim.com 10. Suka menghukum Hukuman memang dapat memunculkan efek jera. Namun hukuman yang berlebihan dapat berdampak buruk. Hukuman yang berlebihan mengajarkan kepribadian ganda terhadap anak, ketika berhadapan dan berjauhan dengan anda. Memarahi, membentak, mencela dan mengomel 9. Mengancam Menghadapi anak tidak mau makan, tidak mau belajar, maunya bermain saja, terkadang membuat kita mengeluarkan ancaman. Mengancam dapat berdampak negatif. Mengancam dengan bahasa halus maupun kasar dan keras tidak akan memecahkan masalah. Ancaman memang efektif agar anak mau menuruti perintah orang tua, tetapi itu hanya bersifat sementara. Karena didasari pada rasa takut bukan karena kesadaran dari anak. 8. Menghina dan membanding-bandingkan Kedua perilaku buruk harus kita hindari dalam mendidik dan mengasuh anak. Penghinaan terhadap anak dapat menghilangkan rasa percaya diri anak, mematahkan semangatnya, melemahkan kepribadian anak, membuat anak menjadi labil dan lebih parah menyebabkan anak merasa minder. Akibatnya anak tidak mampu berinteraksi dengan lingkungan secara positif dan mandiri. Menghina terkadang menjalar dengan membanding-bandingkan anak satu dengan yang lain. Membanding- bandingkan dapat menghilangkan percaya dirinya, menghilangkan kemampuan anak, menjadi anak tidak kompetitif karena selalu merasa tertinggal dengan pembandingnya, dan menimbulkan apatisme terhadap anak. 7. Memberi label terhadap anak Hati-hati terhadap ucapan yang keluar dari mulut kita,tanpa sadar kita memberi label terhadap anak seperti; penakut, pembuat onar, pemalas, nakal dan lain-lain. Melabeli anak dengan sifat buruk dapat membuat label negatif itu benar-benar melekat pada dirinya, mengorbankan perasaan anak karena ketajaman lisan orangtuanya. 6. Menuduh dan berprasangka buruk Menuduh anak dan berprasangka buruk tanpa melihat sebab-sebabnya sangat berdampak buruk terhadap perkembangan anak. Menuduh anak membuat anak menjadi seperti terdakwa yang harus diberi hukuman dan anda berperan sebagai hakim yang memberi vonis hukuman alih-alih sebagai seorang pendidik dan orang tua. Berprasangka buruk terhadap anak menunjukkan tidak adanya kepercayaan orang tua. Apabila rasa saling percaya semakin menipis akan menutup pintu komunikasi ibarat membangun tembok pemisah antara anak dan orang tua. 5. Memberi nasehat secara berlebihan Pada dasarnya manusia tidak membutuhkan nasehat yang berlebihan karena akan membuatnya bosan dan merasa digurui. Karena itulah Rosulullah Saw sangat berhati-hati kala menasehati pada sahabatnya. Beliau khawatir membuat mereka bosan. Seorang anak kecil, bisa merasa tertuduh jika terus menerus dinasehati secara berlebihan. 4. Mengungkit kebaikan kita sebagai orang tua Tanpa sadar orang tua berkeluh kesah kepada anak dan tanpa sadar pula telah mengungkit kebaikan-kebaikan yang telah dicurahkan untuk anak. Mengungkit kebaikan seperti; pemberian, pekerjaan, kelelahan kepada anak hanya akan melemahkan dan membuat anak merasa tercela serta selalu merasa bersalah dan tidak berguna. 3. Terlalu sering mengkritik Kritikan memang perlu untuk membangun motivasi tetapi tanpa diiringi dengan pujian akan mengendorkan etos kerja dan proses belajar anak. Akibatnya anak lebih senang mencari ketenangan dan mengasingkan diri untuk menghindari kritikan. 2. Memarahi, membentak, mencela dan mengomel Kita memarahi anak apabila kita anggap berbuat nakal, tidak mau menurut, membangkang dll. Marah kepada anak biasanya diiringi dengan membentak, mencela dan mengomel. Perilaku buruk ini akan berdampak negatif pada perkembangan anak. Dampak negatif dari bentakan adalah: - Merusak bahasa komunikasi dan sikap saling memahami - Membuat anak bingung; antara takut dan ingin membela diri - Membuat anak reaktif dan kehilangan nalar introspeksi perilakunya - Dampak negative bentakan lebih buruk daripada sebuah pukulan - Mengakibatkan trauma sepanjang hidup pada anak Dampak negatif dari mencela dan mengomel: - Menanamkan rasa dendam dalam hati anak - Merusak hubungan dan ikatan - Menjauhkan hati - Membunuh perasaan positif dalam diri kedua belah pihak 1. Terlalu mendikte Pemberi perintah kepada anak tanpa pemberi kepercayaan adalah bentuk mendikte yang berlebihan. Terlalu mendikte akan melemahkan kepribadian anak, anak menjadi sangat tergantung kepada orang tua, menjadikan anak seperti robot, yang hanya menerima perintah. (Repost top10.web.id)

Sabtu, 11 Agustus 2012

Mulai Menulis lagi?

Entah apa yang membuat aku kembali bisa menulis/memposting blog ini lagi? Apakah karena sedang bulan puasa, jadi punya waktu lebih banyak (karena lagi libur) atau karena tak diganggu pikiran makan dan makan juga minum, he he... Malu juga jika pengunjung blog ini melihat penanggalan antara tulisan satu dengan tulisan lainnya pada blog ini dalam rentang waktu yang lama dan lamaaa. Bisa menulis nggak sih pemilik blog ini? Begitu barangkali yang terlintas dalam pikiran pengunjung blog. Tapi yang jelas menulis itu perlu waktu dan mood tentunya. Mengapa perlu waktu? Ya, karena menulis itu adalah sebuah proses menuangkan ide yang ada di dalam pikiran kedalam bentuk tulisan. Jadi tak mungkin atau sulit kan kalau menulis dilakukan sambil dikejar-kejar pekerjaan atau sambil lari-lari.... Tulisannya jdi jelek dan tak karuan. Selain waktu menulis juga perlu mood, suasana hati yang mendorong orang untuk melakukan sesuatu (kira-kira begitu lah artinya) dan juga inspirasi. Loh, kenapa tulisan ini berubah jadi tutorial ya? Aneh, itulah tulisan yang masih serba canggung dan nanggung dan masih harus banyak belajar dan belajar. Tapi satu hal positif yang kudapatkan hari ini adalah aku tak lupa cara menulis, itu saja. Happy Sunday.